Sosok Pemimpin Terbaik

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin ialah yang kalian cintai, dan ia cinta kepada kalian, dan kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian.” (HR Muslim).

Salah satu modal utama dalam memimpin adalah adanya rasa cinta terhadap yang dipimpinnya. Dalam istilah Arab, cinta dikatakan dengan mahabbah yang secara harfiah bermakna mencintai, mengasihi, menyayangi.

Cinta diwujudkan dari segala upaya memenuhi keperluan yang dicintainya, walaupun dengan mengorbankan keingingan dirinya.

Seorang ayah yang mencintai keluarganya, tentu ia akan berusaha memenuhi segala keperluan keluarganya. Begitupun seorang ibu, yang jauh memiliki cinta kasih sepanjang jalan.

Apalagi bila seorang pemimpin yang melingkupi umat atau rakyat yang banyak. Mulai dari pemimpin lembaga, organisasi, daerah, hingga pemimpin tertinggi di sebuah negara.

Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik bagaimana sifat dan sikap seorang pemimpin dalam memimpin orang-orang banyak, yang beliau katakan sebagai penggembala umat.

Beliau bersabda, “Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan ditanya tentang gembalaannya, seorang yang memimpin manusia adalah penggembala dan dia akan ditanya tentang gembalaannya, seorang lelaki adalah penggembala atas keluarga rumahnya dan dia akan ditanya tentang mereka, dan orang perempuan adalah penggembala atas rumah serta anaknya suami dia akan ditanya tentang mereka.” (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Seorang penggembala yang baik, ia akan memperhatikan bagaimana gembalaannya mendapatkan air minum yang cukup, terarah menuju padang rumput yang hijau, dan terlindungi dari serangan serigala.

Semuanya itu dilakukan atas dasar cinta yang tulus, jiwa yang ikhlas, dan keinginan yang kuat bagaimana menyejahterakan gembalaannya.

Begitulah kecintaan Rasulullah SAW terhadap umatnya, yang Allah gambarkan dengan kalimat, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan, sangat menginginkan (keinginan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah [9]: 128).

Sehingga dengan kecintaannya itu, gembalaannya pun memberikan tenaganya yang diperlukan, mengeluarkan air susu terbaik untuk diperah dan dijual oleh sang majikan, serta menyiapkan dagingnya untuk disembelih atau dikorbankan.

Dengan kecintaannya itu pula, ia mendoakan kebaikan bagi pimpinannya, yang telah menggembalanya menuju kesejahteraan.

Namun, sebaliknya, jika yang datang adalah cacian, umpatan, kecaman, kebencian, bahkan kutukan terhadap seorang pemimpin. Maka, itu menjadi koreksi dan introspeksi, jangan-jangan selama ini ia memimpin belum berdasarkan cinta yang tulus dan ikhlas karena Allah? Atau belum mampu menggembala umat dengan sebaik-baiknya?

Maka, hadis melanjutkan,”Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Na’udzubillaahi min dzalika.

Related Posts:

SMP Juara gelar mabit menjelang Ujian Nasional

PEKANBARU. (24/03). Waktu Ujian Nasional sudah dekat, Hanya tinggal kurang dari satu bulan. Di samping usaha yang maksimal seperti mengikuti try out, study club dan belajar tambahan lainnya, para siswa juara kelas IX SMP Juara pekanbaru Juga tidak lupa mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu acara yang diadakan adalah MABIT.

Mabit kali ini berbeda dari pada mabit biasa yang diadakan tiap bulannya. Mabit kali ini diberi nama Mabit Khusus, karena agenda khususnya. Setalah sholat isya siswa belajar dulu dengan guru pembimbing, baru setelah itu mendengarkan motivasi dari ustadz.

dalam kesempatan tersebut, pihak SMP Juara Pekanbaru bisa menghadirkan motivator Nasional yaitu Ust. Mas’ud Tahidin. Materi yang disampaikannya sangat menarik dan membuat anak antusias. Suasana semakin mengharukan ketika ustadz menyampaikan materi muhasabah. Dinginnya suasana malam tak bisa menghalangi isak tangis mereka saat memanjatkan doa kepada Allah.

“Pukul 04.00 WIB, para siswa juara bangun untuk sholat tahajud dan dilanjutkan sholat shubuh berjamaah. Acara ditutup dengan sarapan bersama. Mereka kembali kerumah dengan perasaan senang dan wajah ceria dengan penuh harapan menatap masa depan. Semoga Allah meluluskan mereka semua dengan nilai memuaskan,” harap kepala SMP Juara Pekanbaru, Syahrul Fadilah.***

Related Posts:

Agama Sebagai Nasihat


Oleh: Deding Ishak

“Aku menyampaikan amanah Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS al-A’raf: 68). Demikian pula Nabi SAW bersabda, “Agama itu nasihat. Sahabat bertanya, ‘Bagi siapa?’ Beliau bersabda, ‘Bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin, dan umat Islam pada umumnya.’” (HR Muslim).

Kata nasihat berasal dari bahasa Arab, dari kata kerja nashaha yang berarti khalasha, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran dan benar. Dalam arti lain, nasihat juga bisa berarti khaatha, yaitu menjahit karena perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya diibaratkan memperbaiki pakaiannya yang robek.

Menurut istilah, nasihat adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Imam al-Shobuni mengartikan nasihat dengan menghendaki kedamaian dan kebaikan. Pengertian secara bahasa dan istilah ini bermakna bahwa, pertama, agama itu nasihat bagi Allah.

Maksudnya, dengan berpegang kepada agama, umat Islam dapat tetap memelihara keyakinan dalam mensucikan Allah dan kemahasempurnaan-Nya. Mengesakan-Nya dalam hal ibadah dan menjauhi kesyirikan, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, mencintai yang dicintai-Nya, dan membenci yang dibenci-Nya.

Kedua, agama itu nasihat bagi kitab-Nya. Dengan berpegang kepada agama, umat Islam dapat tetap memelihara kesucian Alquran, membacanya, menggali isinya, dan mengamalkan kandungannya.
Mereka juga diharapkan dapat mengajak kepada kebaikan dan kedamaian sesuai nilai yang terkandung dalam kitab suci.

Ketiga, agama itu nasihat bagi Rasulullah SAW. Dalam menjalankan misi kerasulannya, beliau berpegang teguh kepada wahyu Allah. Beliau juga menjaga kesucian dan kemuliaan sebagai teladan umat. Dalam menyampaikan dakwah Islamiyah kepada umatnya, masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Islamiyah dalam waktu relatif singkat.

Keempat, agama itu nasihat bagi pemimpin Islam. Dengan berpegang kepada agama, para pemimpin hendaknya menjalankan tugas kepemimpinan sesuai ajaran agama. Para pemimpin Islam hendaknya membersihkan diri dari hal tak terpuji sehingga menjadi panutan umat. Mereka juga dituntut mengajak umatnya kepada kedamaian dan kebaikan serta menjauhkan dari kemungkaran.

Seorang pemimpin harus ikhlas memberikan pelayanan terbaik dengan menciptakan kepedulian sosial bagi semua lapisan dan menjadikan kekuasaan sebagai amanah. Hanya dengan ikhlas, seorang pemimpin sukses menghilangkan kecenderungannya mengedepankan kepentingan temporal dibandingkan kemaslahatan umat secara menyeluruh.

Kelima, agama itu nasihat bagi umat Islam. Dengan berpegang kepada agama, umat Islam diharapkan membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin.

Mereka diharapkan taat kepada Allah, Rasul, dan para pemimpinnya. Mereka juga dituntut saling mengajak kepada kedamaian dan kebaikan serta menjauhkan dari kemungkaran.

Related Posts:

SEARCHING, STALKING, SHARING

Oleh : Endy Kurniawan

Ciri masyarakat teknologi adalah makin mandiri. Karena ia punya akses langsung ke sumber informasi, sekaligus memegang kendali sepenuhnya informasi menurut kepentingannya. Dulu pemasar belajar tentang tahapan pengambilan keputusan konsumen yaitu A-I-D-A (Attention, Interest, Desire, Action). Tiba-tiba saat ini pemasar atau pemilik produk bertemu fakta bahwa publik tak mau lagi dipengaruhi iklan atau promosi yang sifatnya hirarkis. Maka proses menuju DESIRED diawali dengan tahap SEARCHING. Publiklah yang mendatangi informasi yang berserak.

Dulu orang melakukan juga proses searching, tapi dalam skup yang terbatas dan informasinya tak terlalu bervariasi. Ketika hendak beli motor, informasi yang datang adalah melalui majalah, radio, televisi (top down) dan orang-orang sekitarnya (referral-horizontal). Begitu berkuasanya above the line media saat itu hingga media, terutama radio & televisi, mampu menyuntik cara berpikir publik yang akhirnya mempengaruhi mereka dalam jangka panjang. Dalam sudut pandang komunikasi massa, inilah yang disebut agenda setting, dimana media mengintervensi agenda publik.

Saat ini publik juga mencari informasi, tapi sumbernya mungkin tak terlalu mereka kenali, atau berada di sisi lain bumi. Asalkan itu relevan, mereka tak peduli. Mereka memantau, mengamati banyak gejala. Mereka stalking. Setelah itu mereka membagikannya, sharing. Jadi proses inilah yang sekarang terjadi ketika publik mencari sebuah produk baik persona, benda atau jasa : searching, stalking, sharing. Maka proses A-I-D-A menjadi A-I-S-A-S, yaitu Attention, Interest, Searching atau Stalking, lalu Action dan Sharing.

Pada tahap A dan I, publik masih membutuhkan informasi yang general. Mereka bisa dapatkan itu dari promosi top-down tentang sebuah produk. Tapi begitu tergerak untuk ‘beraksi’ mereka akan cari hal detil. Kalau mereka mendapatkan informasi yang meyakinkan, maka mereka akan melakukan transaksi. Menjadi penikmat produk yang ia cari. Setelahnya, jika ia puas, maka ia ‘menebar kepuasannya’ dengan berbagi. Jika ia kecewa, sebaliknya, yang dilakukannya adalah mengumbar ketidakpuasan. Jika ini tidak dilokalisasi, mungkin saja terjadi spiral effect of disappointment yang bisa merugikan nama baik bisnis tidak hanya di dunia maya, tapi juga secara offline. Tidakkah kita ingat kasus Lion Air baru-baru ini?

Related Posts:

THE THIRD UN WORLD CONFERENCE ON DISASTER RISK REDUCTION

SENDAI CITY. (16/03). The Third UN World Conference on Disaster Risk Reduction (WCDRR) diselenggarakan di Sendai City, Miyagi Perfecture, Jepang pada tanggal 14-18 Maret 2015. Ini merupakan kegiatan 10 tahunan yang diselenggarakan oleh PBB dan diikuti oleh banyak negara terutama yang memiliki resiko bencana cukup besar. Tujuannya untuk membuat strategi internasional dalam rangka pengurangan resiko bencana.

Sebagai salah satu NGO yang juga fokus dalam bidang kemanusiaan dan kebencanaan, RZ menjadi salah satu delegasi Indonesia yang menghadiri WCDRR bersama 100 delegasi lainnya yang berasal dari pemerintahan dan NGO. WCDRR kali juga dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Yusuf Kalla dan Menteri Koordinator PMK, Puan Maharani.

“Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Mulai dari banjir, gempa bumi, longsor sampai gunung meletus. RZ sebagai lembaga yang juga konsen dalam aksi kebencanaan merasa sangat senang bisa menjadi bagian dari delegasi Indonesia di acara ini. Disini kita akan membuat strategi bersama untuk penguragan resiko bencana.” Ungkap Heny Widiastuti, Chief Program Officer RZ yang menjadi salah satu delegasi Indonesia.***

Related Posts: